T i t o g r a p h y

Ikon

Jejak Jemari Digital di Atas Kanvas Titography

“Oom Brad” (Kata Anakku – red), Salah Satu Guru Favoritku

(Hari ini satu tahun lalu…)

Saat itu, Rabu malam tanggal 2 Mei 2007, aku hadir di acara “Billionaire in Training” oleh penulis bukunya – Brad Sugars, yang diselenggarakan “GRATIS” di JaCC Building Jakarta.

Brad Sugars Billionaire in Training
VENUE: Jakarta Convention Centre
ADDRESS: JI Jend. Gatot Subroto. Senayan. Jakarta. 10270. Indonesia
DATE: 2007-05-02
REGISTRATION START TIME: 6:00pm
EVENT START TIME: 6:45pm

Orangnya masih muda, 36th, gaya penuturannya asik, nyantai namun bukan berarti tak berwibawa. Dia mempercayai bahwa sesuatu itu perlu proses alami dalam pembelajaran menjadi lebih baik. Anak balita wajar jatuh dalam proses untuk bisa berjalan, sampai saatnya menemukan caranya sendiri yang paling praktis dan tangkas.
Celakanya dalam ruang JaCC saat itu wereless microphonenya ada masalah audio tersendat, 2-3x pembetulan masih ga beres juga, maka dia lempar ke teknisinya :D. “You are fired, man!” Tindakan tsb akan dilakukan juga terhadap karyawannya jika ngga bisa belajar dari kesalahan. DIPECAT! Tegas. Iya! Tapi terukur.

Bradley J. Sugars, pemuda kaya asal Australia ini, sejak kecil sudah mempunyai “bakat” menjual. Sampai akhirnya di usia 22th dia bangkrut bahkan meninggalkan tunggakan utang yg sangat banyak. Suatu kali kemudian dia menghadap Sang Ayah yg sama sekali tidak punya latar belakang bisnis, namun dia perlu seseorang hanya sebagai tempat mengadu tentang kegagalannya. Apa yang dia dapat adalah “Nak, Bapakmu ini tidak bisa membantu apapun, hanya saja yg perlu kamu ingat adalah bahwa kamu masih punya akal (baca: ilmu)”. Untuk beberapa lama dia merenung sampai akhirnya dia mendapatkan ide cemerlang. Dia “menjual dirinya” dengan cara masuk ke perusahaan2 besar sebagai partner konsultan dengan tawaran: “jika dalam sekian bulan saya bisa meningkatkan profit usaha perusahaan Anda sebesar 30%, apa yg Anda tawarkan pada saya?” Di situ dia tidak meminta bayaran melainkan saham. Jadi bagi pemilik perusahaan, ga ada salahnya menerima tawaran Brad, karena jika gagalpun perusahannya tidak perlu bayar sepeserpun meski berupa gaji. Itulah nilai lebihnya. Apa yg terjadi kemudian adalah, dalam 6 bulan setelah kebangkrutan itu, Brad justru bangkit dan berhasil menebus semua utang2nya. Bahkan pada usia 26th dia menyatakan pensiun. Komentar lucunya sbb: “Hal yg paling unik adalah bahwa teman2 pensiun saya justru lebih pantas menjadi bapak saya”. Ya jelas orang semua rata2 teman pensiunnya berusia 60 th-an. 🙂

Brad mengingatkan tujuan dalam berbisnis, yaitu untuk: “bekerja sekali, namun mendapatkan hasil selamanya”. Ini bertolakbelakang dengan kerja sebagai karyawan, di mana kita mendapat hasil sesuai dengan kerja kita. Hal ini dapat dicapai apabila kita mampu mengubah sumber income yg semula “active income” menuju “passive income”.
Pertanyaannya: Bagaimana bisa?
Menurut Brad, untuk dapat “bekerja sekali, namun mendapatkan hasil selamanya” cara terbaik adalah dengan memiliki bisnis (selain menulis buku tentunya – hehe, emang dia kan juga penulis). Namun kenapa banyak business owner yang gagal?
Menurut Brad mereka tidak menerapkan prinsip LEARN before you EARN. Jadi belajarlah dulu, sebelum menuai hasil kemudian.
Caranya? Salah satunya – “ya baca bukuku…” Brad bercanda.
Sehingga nantinya sebagai bisnis owner kita tidak sekedar dapat MAKE the money tapi juga MANAGE the money.

(Tulisan ini aku kombinasi dengan resensi sahabat guru, Pak Fauzi Rachmanto)

Di sinilah kemudian Brad memaparkan tangga entrepreneurnya yang terkenal itu:

Level 0:
Di anak tangga paling bawah, ada pelajar dan pemagang (apprentice), mereka yang masih spend money ataupun tidak terima apa-apa untuk learning. Ketika mereka akhirnya bekerja menjadi EMPLOYEE, barulah mereka dibayar untuk belajar. Ini kalau cara berpikir mereka betul bahwa bekerja adalah sarana belajar sebelum dapat membangun bisnis sendiri.

Level 1:
karyawan. Banyak yang akhirnya tidak tahan dan kembali menjaDi tangga berikutnya adalah para SELF EMPLOYEE, mereka yang akhirnya memutuskan untuk mengelola bisnis sendiri. Umumnya, pada tahap awal mereka adalah para single fighter. Mengerjakan sendiri semua hal dari produksi hingga penjualan. Akhirnya kadang mereka menjadi lebih sibuk dibanding ketika menjadidi karyawan.

Level 2:
Jika cukup pandai mengelola usaha, para self employee tadi, biasanya akan bertahan dan mulai merekrut tim, sehingga mereka naik tangga menjadi MANAGER. Pada tahap ini, kadang kehidupan menjadi lebih kompleks dari sebelumnya. Karena para manager ini sering harus kerja keras untuk menggaji karyawan, bukan sebaliknya.

Level 3:
Jika berhasil mengatasi tantangan ini, mereka bisa menciptakan system dan membayar orang lain untuk mengelola bisnis, maka mereka layak naik tangga menjadi BUSINESS OWNER. Seharusnya, pada level ini business berjalan sesuai dengan definisi bisnis menurut Brad: “A commercial, profitable enterprise, that work without me”. Dengan menjadi business owner, maka Anda akan menciptakan cashflow yang banyak dan stabil, baik dengan cara Anda terlibat langsung atau tidak.

Level 4:
Proses kemudian Anda bisa naik tingkat menjadi INVESTOR. Pada tingkat investor ini, Anda dapat melipatgandakan kekayaan dengan cara yang FUNtastic. “Caranya Brad…?!” Audience ga sabar…

bidang susu sapi. Brad kecil pun bertanya: ”Pak, bagaimana sih Anda bisa begitu kaya?”. Kawan Ayahnya menjawab: ”Nak, saya kaya bukan karena menjual SUSU, tapi menjual BISNIS SUSU”. Hmmmm… gitu yaa… Brainstroming! Ya, seharusnya selama ini harus berpikir bagaimana menjual BISNIS, bukan produk dan jasa semata. That’s what its all about. McD besar bukan karena jualan burger sama ayam, tapi karena jualan BISNIS burger dan ayam. Demikian juga dengan Starbuck, Kebab Turki Baba Rafi, AutoBridal, dan sebagainya. Semua menjaEh, Brad Sugars malah cerita bagaimana waktu dia kecil. Ternyata bakat bisnis Brad sudah terlihat dari umur 7 tahun. Waktu itu, dia pergi ke rumah kawan Ayahnya yang sangat kaya. Dia adalah seorang pengusaha didi besar karena menjual BISNIS.
Bahkan, sebagai investor, Anda dapat membeli BISNIS, selain menciptakan dari awal. Kita dapat menerapkan prinsip Buy, Build and Sell. Dengan pengetahuan yang diperoleh selama proses LEARN sewaktu kita mendaki tangga EMPLOYEE hingga OWNER, kita akan mampu melakukan ini. Selain BISNIS, investor juga dapat melakukan investasi pada PROPERTY dan STOCK (saham). Prinsip membeli bisnis, investasi pada property maupun stock, dapat dilakukan dengan cara RETAIL, maupun WHOLESALE (dengan volume tertentu dengan harga negosiasi yang lebih baik). Misalnya investasi pada property dan stock dapat dilakukan dengan harga yang sangat fantastis, sehingga investor dapat langsung untung pada waktu pembelian dilakukan (day one).
Ada beberapa prinsip dasar yang disampaikan oleh Brad dalam membeli, membangun dan menjual bisnis. Yang pertama adalah, ketika semua orang menggali emas, jadilah orang yang menjual alat nya (pan nya). Penggali emas bisa untung dan buntung, tapi penjual pan akan untung terus. Prinsip ini contohnya berlaku ketika booming internet. Dari berbagai perusahaan teknologi yang muncul dan tenggelam, yang untung adalah para investment bankernya. Selain itu dalam memilih bisnis, kita harus memperhatikan aspek “repeat business” dan potensi pertumbuhan bisnis nya. Jangan ragu dalam penentuan pricing. Be expensive, supaya profit terjamin. Ini penting, karena salah satu aspek yg vital dalam bisnis adalah cashflow nya bukan assetnya. Jadi yang dibeli dari suatu bisnis adalah cashflow bukan assetnya semata.

Level 5:
Jika Anda mampu mencapai tahap INVESTOR ini, maka Anda tinggal selangkah lagi untuk mencapai puncak tangga yaitu: ENTREPRENEUR. Jika INVESTOR masih berkutat pada jual beli asset fisik. Maka ENTREPRENEUR sudah mampu bergerak dalam tataran “PAPER ASSETS”. Sebagai contoh, Brad menjual lisensi franchise nya untuk kawasan London senilai jutaan poundsterling. Berapa cost nya? NOL. Paling2 ongkos ngeprint kontraknya. Di sinilah dahsyatnya ENTERPRENEUR sejati. Mereka bekerja dengan kertas untuk menghasilkan uang dalam jumlah yang luar biasa besar. Tandatangan sana, tandatangan sini, dan isi rekening bertambah.
Hebat bukan? Anda mau? Pasti Anda juga bisa.

Nah, saatnya narsis ‘dikit gpp yah 😉

Brad & Me

Iklan

Filed under: TDA Community,

5 Responses

  1. kapan ya brad sugar datang lagi ?

  2. ame268 berkata:

    asik-asik… cuma seringkali saya bertanya-tanya, dia sendiri bisa jadi pinter gitu. Itu hasil bertapa atau ikut seminar-seminar gitu ya?

  3. Donnie berkata:

    Mas Ame, dia pinter mungkin actionnya lebih duluan daripada kita2…
    kalau hanya ikut seminar kayaknya gak bakalan pinter kayak gitu, paling pinter jadi pembicara juga hehehehe…

  4. agus berkata:

    Pak Titooo…. salam kenal yaaa, pean orang kedua yang menyambut diriku di tda ngalam setelah mbak vivi, hiks (jadi terharu..) Terima kasih.
    Selanjutnya, jangan kuatir pak, tda ngalam bakal ta obok-obok,ta bikin rame, hehe. Saya ingi sekali jadi TDA nih pak. Mohon bimbingannya yaaaa….

    Pak Tito sering lewat bukit barisan? wah, semoga dg dilewatin aja saya bisa ketularan suksesnya, hihi.
    Oya,mampir2 ke blog saya ya pak, sory komentarnya gak sesuai ama postingane.

    Tips : kalo ingin pinter kyk brad sugar, kudu banyak-banyak Membaca dengan pikiran yang selalu terbuka. Udah terbukti lho pak, saya sekarang jauh lebih pinter daripada…adek saya, hihi.

  5. wjy berkata:

    Trims. semoga berguna buat kita semua.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Mei 2008
S S R K J S M
« Apr   Jun »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Top Rating

Klik tertinggi

  • Tidak ada

TitoTweets

%d blogger menyukai ini: