T i t o g r a p h y

Ikon

Jejak Jemari Digital di Atas Kanvas Titography

Sebuah Investasi yang Baru Bisa Dipetik dalam 20-30 Tahun Lagi

Indonesia STRONG from Home!
Investasi Jangka Panjang(Buku sharing pengamatan dan pengalaman Ayah Edy)

Sebuah kalimat ajakan yang sebenarnya sudah saya setujui sejak belum membaca bukunya, bahkan sejak lama.

Tulisan ini saya persembahkan sebagai hadiah ulang tahun bagi Si Sulung ‘R’ yang menginjak 7 tahun hari ini. Meski tidak bisa dinikmatinya secara instan – langsung saat ini juga, namun sebuah PR (baca: Projek besaR) bagi saya sbg ortu-nya untuk lebih memahami perilaku selama tumbuh-kembangnya dan membekalinya dengan pendidikan non formal yang tepat menuju masa depan cerahnya. Somoga hadiah dalam bentuk perilaku baik dan matang tertanam dalam jiwa R menjelang remanja dan dewasa kelak dia peroleh. Amin!

Pointnya:
Apakah Anda sebagai orang tua merasa seperti ini …?

  • memperlakukan anak seperti Raja yg tak pernah salah?
  • sering berbohong kecil hanya untuk menghindarinya nangis?
  • banyak mengancam & menakutinya?
  • merendahkan/memposisikan diri sendiri lebih lemah daripada pasangan ketika dihadapkan dalam prilaku buruk anak?
  • tidak kompak dengan pasangan dalam menerapkan pola asuh?
  • ada campur tangan pihak ke-3 dalam hal pendidikan ahlak? (kakek, nenek, oom, tante…)
  • ucapan dan tindakan tidak sesuai?
  • luruh dan akhirnya memberi hadiah/menuruti permintaannya saat anak berperilaku buruk hanya untuk menghindari malu di muka umum?
  • merasa bersalah karena keadaan, tidak bisa memberi yang terbaik akhirnya mengamini prilaku buruk anak?
  • mudah menyerah dan pasrah dengan kelakuan anak yang membandel?
  • marah yang berlebihan?
  • gengsi untuk menyapa?
  • memaklumi tidak pada tempatnya, misal: “namanya juga anak-anak”?
  • menggunakan istilah yang tidak jelas saat mengutarakan maksud?
  • mengharap perubahan instan?
  • menjadi pendengar yang buruk?
  • selalu menuruti permintaan anak, dalam arti “memanjakan”? (biasanya thd anak tunggal, atau thd salah satu di antara yang lainnya)
  • terlalu banyak larangan?
  • terlalu cepat menyimpulkan dan memotong pembicaraannya?
  • mengungkit kesalahan masa lalu?
  • suka membandingkan?
  • merasa paling benar dan paling tahu segalanya, mentang-mentang lebih tua? (sok tahu, “kemeruhboso jowone 🙂 )
  • saling melempar tanggung jawab pada pasangan dalam hal pola didik?
  • memposisikan kakak harus selalu mengalah terhadap adik?
  • menerapkan hukuman fisik, terutama saat Anda marah?
  • menunda dan/atau membatalkan hukuman?
  • mudah terpancing emosi anak?
  • mengejek dan mengoloknya dengan julukan buruk?
  • hanya menyindir perbuatannya yang keliru tanpa mengungkapkan dengan kalimat yang tepat?
  • mengalihkan perhatian saat anak merengek tanpa membicarakan dan membuat kesepakatan di tempat?
  • peran televisi vs Anda, dia lebih suka yang pertama?
  • tidak sadar mengajari anak untuk membalas secara fisik ke temannya atau pihak lain?

Hmm… Jika Anda merasa salah satu atau bahkan lebih seperti itu, maka Anda (juga saya sendiri) perlu introspeksi pasti ada yang salah dari diri kita.
Tipsnya pake formula ini: “Tuhan menciptakan 2 (dua) telinga dan 1 (satu) mulut, maknanya kita harus 2x mendengar sebelum kemudian boleh berkomentar”
Artinya lagi, kita harus lebih banyak belajar dan membuka wawasan seluas-luasnya, baru boleh menyimpulkan dan mengambil tindakan, melakukan kebiasan2 baik hingga menjadi budaya. Dan itu akan jadi panutan dengan sendirinya.

Kata pepatah: “You can if you will NOT you will if you can
Mulailah dari yang paling mudah… mulailah dari diri sendiri… dan mulailah sekarang juga!

Semua berawal dari keluarga. Yup, ke-lu-ar-ga!
Organisasi inti terkecil yang sering dilupakan kebanyakan orang, termasuk yang membina keluarga itu sendiri.

Dengan keluarga yang kuat dan harmonis, yakinlah mampu mencetak generasi penerus bangsa yang berkualitas.

If not us who else?
If not now when else?
Let’s make Indonesia STRONG from Home!

“Selamat Ulang Tahun, R!” – Trims juga buat ibuknya yang menemukan dan menyodorkan buku ini.

Iklan

Filed under: Kehidupan, , , , , , , , , , , , , , , , ,

5 Responses

  1. Zaenal Fuadi berkata:

    Matur nuwun Sam… atas sharingnya…
    Mendidik anak adalah proses pembelajaran & perjuangan yang harus dilakukan secara kontinue & konsisten…
    Semoga kita semua selalu diberi kekuatan & petunjuk untuk mengemban amanah-Nya…
    Amin…

    Tumbs up for Tito..

    Wassalam,
    ZF

  2. Tito berkata:

    @ZF: hehe… awak iki sik sinau, Sam ZF. sik sering kalah sama yg namanya emosi. sering ke’pancing’ dan terjebak sikon 😛 .
    Thumps up lebih tepat diberikan pada pengarang bukunya: Ayah Edy, yg menciptakan gerakan Indonesia Strong from Home.
    Terus terang buku-ne gak mawak’i, tipis dg tulisan gede2. Tapi setelah dibaca, memang benar sekali bahwa itulah “root cause” selama ini.
    Btw, trims atas ikut baca-nya. 😉

  3. andri berkata:

    memang benar sam mendidik anak layaknya makan buah simalakama dikerasi berontak dikasih lunak ngelunjak tapi bagaimanapun itulah seni mendidik anak “just be more patient”

  4. Mungkin intinya merubah mindset ya ?

  5. laundryplasa berkata:

    psikologi rumah tangga, permasalahan yang selalu dikesampingkan. padahal itu investasi besar.ayo mulai dari diri sendiri…gudlak
    regard
    aryputri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

November 2009
S S R K J S M
« Okt    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Top Rating

Klik tertinggi

  • Tidak ada

TitoTweets

Kesalahan: Twitter tidak merespons. Tunggulah beberapa menit dan perbarui halaman.

%d blogger menyukai ini: